Peran Bahasa Indonesia dalam Mempersatukan Para Atlet dari Berbagai Daerah
Abstract
Bahasa Indonesia memiliki peran sentral sebagai alat komunikasi dan pemersatu bangsa, khususnya dalam konteks olahraga di Indonesia yang multibahasa dan multikultural. Dengan lebih dari 57.000 pulau dan lebih dari 700 bahasa daerah, penggunaan Bahasa Indonesia memudahkan para atlet untuk berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun kerja sama meskipun berasal dari latar budaya yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 20 responden yang aktif di dunia olahraga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya mempermudah komunikasi dan koordinasi tim, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri, persahabatan, solidaritas, serta sportivitas antar atlet. Selain itu, bahasa juga berfungsi sebagai sarana ekspresi, identitas, dan pembentukan karakter moral yang baik. Meskipun istilah asing dalam olahraga kadang menimbulkan kesulitan pemahaman, Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa utama yang menjaga persatuan, meminimalkan kesalahpahaman, dan memperkuat rasa kebersamaan di antara atlet dari berbagai daerah. Penelitian ini menegaskan bahwa Bahasa Indonesia tidak sekadar sarana komunikasi, melainkan juga alat pemersatu, penunjang prestasi, dan simbol identitas nasional dalam dunia olahraga.
Downloads
Copyright (c) 2026 Evan Dhiaurrachman, Irma Nur Hayati, Muhammad Rizki Pratama, Shantika Destiani, Reyvan Andri Komara, Elsa Sita Resa, Mochamad Whilky Rizkyanfi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis bersedia memberikan hak atas publikasinya di bawah Lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International. Sehingga memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan atas karya penulis dan publikasi dalam jurnal ini.
Penulis dapat masuk ke dalam pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif versi karya jurnal yang diterbitkan (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau mempublikasikannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan publikasi awal dalam jurnal ini.
Penulis diizinkan dan didorong untuk mengirim karya mereka secara online (misalnya, dalam repositori institusi atau website mereka) sebelum dan selama proses pengajuan, karena dapat menyebabkan pertukaran produktif, serta sebelumnya dan kutipan yang lebih besar dari karya yang diterbitkan.


